ARTIKEL

Bahaya Hizbut Tahrir (HTI): Menjadikan Islam Sebagai Ideologi Politik Bukan Agama

hti

Bahaya Hizbut Tahrir (HTI): Menjadikan Islam Sebagai Ideologi Politik Bukan Agama

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadikan Islam sebagai ideologi politik semata bukan sebagai agama. Islam adalah agama (din) tapi Hizbut Tahrir hanya menjadikan Islam sebagai ideologi politik (mabda’). Hal ini sangat jelas kalau kita mengkaji buku-buku yang dikarang oleh Pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyuddin An-Nabhani dan para pemimpin-pemimpin penggantinya serta mencermati definisi (ta’rif) Hizbut Tahrir berdasarkan yang mereka tulis sendiri.

Hizbut Tahrir mendefinisikan dirinya sebagai partai politik (hizbun siyasiun) yang aktivitasnya adalah politik (as-siyasah amaluhu) dan Islam sebagai ideologi politiknya (wal Islam mabda’uhu). Tujuannya adalah mengembalikan Negara Khilafah (i’adah Al-Khilafah).

Maka, pusat utama Hizbut Tahrir ada pada dua hal, yakni siyasah (politik) dan Negara Khilafah (al-Khilafah). Jadi, Hizbut Tahrir menjalankan Islam sebagai aktivitas politik belaka, yang diyakini pula sebatas ideologi politik (bukan sebagai agama) untuk tujuan mendirikan Negara Khilafah.

Perbedaan Agama dan Ideologi Politik

Agama berbeda dari ideologi, apalagi ideologi politik. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya”

Sedangkan ideologi menurut KBBI adalah 1) kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; 2) cara berpikir seseorang atau suatu golongan, 3) paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik. Sementara ideologi politik adalah 1) sistem kepercayaan yang menerangkan dan membenarkan suatu tataan politik yang ada atau yang dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya; 2) himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian dan problem politik yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku politik.

Agar tidak bingung dengan definisi yang pajang di atas saya ingin memberikan pemahaman yang sederhana: agama adalah ajaran dan sistem beribadah kepada Tuhan serta pola relasi manusia dengan manusia lainnya dan lingkungannya yang sifatnya umum, ajaran agama bersumber dari Tuhan. Sedangkan ideologi adalah kumpulan konsep, cara berpikir, paham, teori atau tujuan yang dibuat oleh seseorang atau golongan manusia (bukan dari Tuhan) kalau dikaitkan dengan politik, maka hanya terbatas dengan ranah politik.

Agama juga bukan politik. Definisi politik menurut KBBI adalah 1) (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan); 2) segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain; 3) cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan.

Maka jelas sekali perbedaan (bukan  pemisahan!) antara agama dan politik, agama adalah ajaran ketuhanan yang mengandung keyakinan (akidah) dan aturan ibadah syariat serta pergaulan (akhlak) antara manusia dengan Tuhannya, manusia yang lain, lingkungan dan semesta. Sedangkan politik maknanya terkandung dalam istilah “siasat” yang merupakan serapan dari bahasa Arab “siyasah”. Siasat, kebijakan, aturan, tindakan baik yang terkait dengan negara dan pemerintahan atau siasat, kebijakan dan aturan yang lebih khusus.

Dalam ranah ini, Islam adalah agama yang agung, bersumber dari Allah Swt, mengandung semua ajaran (tuntutan politik hanya bagian terkecilnya) tapi bagi Hizbut Tahrir Islam hanya dijadikan sebagai ideologi politik yang merupakan produk kemanusiaan, apalagi hanya terkait dengan tindakan duniawi.

Bagaimana Hizbut Tahrir Menjadikan Islam sebagai Ideologi Politik bukan Agama?

Pertanyaan di alam kubur adalah “ma dinuka” apa agamamu? Islam sebagai agama (din), bukan Islam sebagai ideologi politik (mabda’) seperti yang dikembangkan oleh Hizbut Tahrir!

Tapi Hizbut Tahrir telah mempersempit bahkan mengunci Islam sebagai ideologi politik (mabda’) bukan lagi sebagai agama (din)!

Mau buktinya?

1. Buku-buku Hizbut Tahrir Berpusat pada Ideologi Politik dan Negara Khilafah

Kita telusuri buku-buku Hizbut Tahrir yang disebut sebagai buku adopsian (mutabanni).

Dalam buku Ta’rif Hizbit Tahrir (Definisi Hizbut Tahrir) halaman 25-25 yang diakui hanya 18 buku. Yaitu:

1. Nizamul Islam (Sistem Islam)
2. Nizamul Hukmi fil Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam)
3. An-Nizam al-Iqtishadi fil Islamn (Sistem Ekonomi dalam Islam)
4. An-Nizam Al-Ijtima’i fil Islam (Sistem Sosial dalam Islam)
5. At-Takattul al-Hizbi (Tentang Organisasi Politik)
6. Mafahim Hizbit Tahrir (Ide-ide dari Hizbut Tahrir)
7. Ad-Daulah al-Islamiyah (Negara Islam)
8. As-Syakhshiyah al-Islamiyah (Tokoh Islam, 3 jilid)
9. Mafahim Siyasiyah Li Hizbit Tahrir (Ide Politik dari Hizbut Tahrir)
10. Nazarat Siyasiyah Li Hizbit Tahrir (Pandangan Politik dari Hizbut Tahrir)
11. Muqaddimah Ad-Dustur (Pembukaan UUD)
12. Min Muqawwamat an-Nafsiyah al-Islamiyah (Pembentukan Jiwa Islam)
13. Ajhizatu Daulatil Khilafah (Perangkat dan Sistem Negara Khilafah)
14. Al-Anwal di Daulatil Khilafah (Harta dalam Negara Khilafah)
15. Usus Ta’lim al-Manhaji di Daulatil Khilafah (Dasar-dasar Pengajaran Metodologis dalam Negara Khilafah)
16. Qadlaya Siyasiyah (Problem-problem Politik)
17. Manhaj Hizbit Tahrir fi Taghyir (Metode Hizbut Tahrir dalam Perubahan)
18. Hizbut Tahrir/at-Ta’rif (Definisi Hizbut Tahrir).

Ada pula buku-buku lainnya yang menjadi rujukan yang semuanya berasal dari karya tokoh-tokoh Hizbut Tahrir. Semua buku tersebut mengulas Islam sebagai ideologi politik dan bagaimana mendirikan Negara Khilafah.

Dari buku-buku yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir menegaskan bahwa Hizbut Tahrir tidak pernah mengkaji dan mengulas Islam sebagai agama tapi hanya sebagai ideologi politik dan alat untuk mendirikan Negara Khilafah.

2. Hizbut Tahrir Tidak Menjadikan Kitab-kitab Klasik yang Otoritatif sebagai Sumber Utama

Karena kalau Hizbut Tahrir mau mengulas dan mengkaji Islam sebagai agama bukan hanya sebagai ideologi politik semata, pastilah menjadikan kitab-kitab klasik sebagai rujukan utama, bukan buku-buku para ideolog Hizbut Tahrir yang telah menyempitkan dan mengunci Islam sebagai ideologi politik bukan sebagai agama.

Kalau Hizbut Tahrir mau memahami Islam sebagai agama maka akan menjadi kajian Al-Quran baik dari kitab-kitab tafsir klasik, kitab-kitab tentang ulumul Quran, qiraat, asbun Nuzul dllnya, tapi lihatlah di list buku adopsian Hizbut Tahrir di atas, anda tidak menemukan kitab-kitab klasik sebagai rujukan utama.

Demikian pula Hizbut Tahrir tidak memasukkan daftar kitab-kitab hadits, baik 2 Kitab Hadits yang sahih (Imam Bukhari dan Imam Muslim) dan kitab-kitab Sunan lainnya, serta syarah terhadap kitab-kitab Hadits.

Hizbut Tahrir tidak menjadikan kitab-kitab fiqih, baik dari para Imam Madzhab Fiqih maupun ulasan, penjelasan dan ringkasan terhadap madzhab-madzhab mereka, Hizbut Tahrir tidak memasukkan buku-buku standar dalam mengkaji sejarah Nabi, sejarah Islam dll nya. Apalagi kitab-kitab yang terkait dengan tasawuf dan akhlaq.

Kesimpulannya kitab-kitab utama (kanonik) yang sewajibnya dijadikan sumber (al-mashadir) untuk memahami Islam baik dari sisi ajaran hingga pengalaman sejarahnya tidak dijadikan sebagai rujukan oleh Hizbut Tahrir. Partai Politik ini hanya mengambil rujukan dari buku-buku karya tokoh mereka sendiri, yang sudah menjadikan Islam sebagai ideologi politik bukan lagi sebagai agama.

3. Doktrin Awal Islam sebatas “Ideologi Politik Negara Khilafah” bukan Agama

Saya akan jadikan contoh bagaimana perjalanan seorang yang menjadi pengikut Hizbut Tahrir didoktrin agar memahami Islam sebagai ideologi politik bukan sebagai agama. Saya akan ambil dari buku “Nizamul Islam” karya pendiri Hizbut Tahrir Taqiyuddin An-Nabhani, yang merupakan buku utama dan pertama. Inilah buku dasar dari segala doktrin Hizbut Tahrir yang menjadikan Islam sebagai ideologi politik bukan agama.

Buku yang hanya setebal 142 halaman ini, tapi Penulisnya sudah dianggap sebagai Mujtahid Mutlak oleh pengikut Hizbut Tahrir, yang isinya tak lebih sebagai refleksi—bukan buku ilmiah karena tidak merujuk pada kitab-kitab sebelumnya—tak lebih sebagai pemikiran bebas dan individual Taqiyuddin An-Nabhani saja.

Buku ini dimulai dengan bab Thariqul Iman: Jalan Menuju Iman. Jangan salah sangka bahwa iman yang dimaksud adalah iman (kepercayaan) pada Islam yang dipahami secara umum, atau Islam sebagai iman keagamaan,  maksud iman di sini iman dan percaya Islam sebagai ideologi politik (mabda’). Buku ini pula yang bertanggung jawab perubahan iman pada seorang muslim yang awalnya memahami Islam sebagai agama kemudian didoktrin, dicuci otak dan imannya, disempitkan nalarnya, dikunci hatinya untuk meyakini Islam hanya sebagai ideologi politik yang tujuannya adalah mendirikan Negara Khilafah.

Sebelum menutup bab pertama, Thariqul Iman (Jalan Menuju Iman)—maksudnya iman Islam sebagai ideologi politik, Taqiyudin An-Nabhani menulis di halaman 13:

“Pemecahan inilah yang menjadi dasar berdirinya suatu ideologi (mabda’) yang dijadikan jalan sebagai kebangkitan. Pemecahan itu pula yang menjadi dasar bagi berdirinya suatu hadlarah, suatu peradaban yang bertitik tolak dari suatu mabda’ (ideologi) tadi. Di samping menjadi dasar yang melahirkan peraturan-peraturan dan dasar bagi berdirinya Negara Islam.”

Islam yang dirumuskan oleh Taqiyudin An-Nabhani adalah ideologi (mabda’) politik untuk mendirikan Negara Khilafah, atau disebut juga Negara Islam. Dan buku Nizamul Islam ini meskipun tipis tapi telah memuat UUD Negara Khilafah yang diimpikan oleh Hizbut Tahrir sejak tahun 1953. Dan hingga saat ini, rumusan dan tulisan Taqiyudin An-Nabhani ini tidak pernah ditambah apalagi diubah, karena Taqiyudin An-Nabhani bagi tokoh dan pengikut Hizbut Tahrir hingga saat ini dianggap sebagai Mujtahid Mutlak, buku-buku dan tulisan-tulisannya dijadikan sebagai sumber utama, sumber otoritatif untuk memahami Islam, dari Zaman Rasulullah Saw sampai Taqiyudin An-Nabhani wafat tahun 1977, tidak perlu merujuk pada kitab-kitab klasik.

Andai saja para tokoh dan aktivitas Hizbut Tahrir mau merujuk dan membandingkan bahkan mendiskusikan serta mendebat pemikiran-pemikiran Taqiyudin An-Nabhani, akan tampak nyata, bahwa Taqiyudin An-Nabhani telah menjadikan Islam sebagai ideologi politik semata bukan lagi sebagai agama.

Mohamad Guntur Romli

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top