ARTIKEL

Jangan (main-main) dengan Khilafah. Berat!

khilafah

Akhir-akhir ini gelombang isu pendirian sistem khilafah begitu massif. Hal ini bisa ditengarai dengan respon netizen lewat berbagai macam jenis medsos. Mereka berlomba-lomba menampakan keberpihakannya, baik pro maupun kontra. Saya kira ini angin segar, minimal masyarakat terdorong untuk membuka buku atau sekedar membaca tulisan (artikel) terkait isu tersebut. Tulisan ini tidak akan membahas twitan para netizen, namun akan sedikit mengurai tentang kepincangan paham khilafah.

Para pengusung khilafah mendasarkan idenya dengan hukum Allah, makanya mereka selalu mengkampanyekan adagium laa hukma illa Allah, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Selalu mereka bawa sampai lupa bahwa adagium tersebut terdapat kepincangan jika keliru memahaminya.
Selain adagium tadi, juga terdapat ayat al-Qur’an yang meligitimasinya. Diantara yang termasyhur adalah surat al-Maidah: 44. Dalam ayat tersebut tidak ada penyebutan secara eksplisit tentang khilafah, namun mereka menggunakannya untuk dalil dalam “apa yang diturunkan oleh Allah”. Kalau berbicara apa yang diturunkan oleh Allah, maka kita merujuk pada Qur’an dan Sunnah Nabi. Sedangkan pada saat ayat ini turun, di Madinah Rosulullah malah mendaklarasikan piagam Madinah sebagai konstitusi masyarakat Madinah pada saat itu. Ini semacam ada kepincangan pemahaman konsep khilafah yang digembor-gembor melalui normatif ayat di atas tanpa melihat perimbangan bahwa Nabi malah mendirikan negara bangsa (nation state) bukan negara agama (religion state).

Terkait yang bersikeras memaksa ayat tersebut mendukung khilafah ada dialog menarik antara khalifah Al-Makmun dan orang Khawarij. Suatu ketika ada seorang Khawarij dibawa menghadap Khalifah al-Makmun, lantas al-Makmun bertanya, “hal apa yang menyebabkanmu berbeda dengan kami?” Ia menjawab, “satu ayat di dalam al-Qur’an.” Al-Makmun bertanya lagi, “Apa itu?”. Ia menjawab, “Firman Allah: Barang siapa yg tidak berhukum dengan hukum yg diturunkan  oleh Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”. Lantas al-Makmun bertanya lagi, “Apakah kamu mengetahui bahwa ayat itu benar benar diturunkan oleh Allah?”. Ia menjawab, “Iya.” Al-Makmun bertanya lagi, “Apa dalilmu?” Ia menjawab, “Ijmak umat Islam.” Al-Makmun berkata, “Sebagaimana ijmak mereka kamu terima dalam penetapan ayat, maka terimalah ijmak mereka dalam penafsiran ayat.” Ia berkata, “Anda benar, semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada Anda wahai Amirul Mukminin”. [Dikutip dari buku al-Haq al-Mubin Fi al-Rad ‘ala Man Tala’aba bi al-Din- Dr. Usamah Sayyid Al-Azhary].
Di atas telah disebutkan kaum Khawarij, memang tidak bisa dipungkiri segala arus gerakan yang mengarah pada pendirian khilafah dan paham radikalisme bermuara dari pemahaman dangkal kaum Khawarij. Mengapa dangkal? Kita bisa melihat kualitas keilmuan mereka dalam mengambil dalil. Mari kita sandingkan debat mereka dengan Ibnu Abbas (pernah didoakan Nabi menjadi penafsir al-Qur’an). Ketika mereka bersikukuh keluar dari barisan sahabat Ali lantaran Ali telah menguruskan urusan hukum kepada manusia. Singkat cerita, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Ali itu terdapat dalam al-Qur’an surat Al-Maidah: 95.  Misalnya, hukum terkait harga denda seekor hewan yg dibunuh ditentukan oleh ketentuan manusia, ini berarti Allah menyerahkan hukum kepada manusia.
Terakhir, bagaimanapun konsep khilafah itu problemis, jika pandangan mereka senantiasa hitam putih. Mareka menganggap kalau tidak hitam berarti putih, begitu sebaliknya. Begitupun negara Islam-negara perang, seterusnya dan seterusnya. Mereka selalu mendaku dirinya paling Islami dan menganggap orang lain (other) sebagai lawannya. Mereka tidak pernah berpikir tentang kebaikan di luar darinya. Padahal pada suatu waktu Rosululkah bersabda tentang carilah kebaikan (kebijaksanaan) meskipun keluar dari anjing. Juga terkait sabda beliau tentang urusan dunia kalian (sahabat yang paham pertanian) lebih mengetahui. Pesan terakhir buat mereka yang menolak Pancasila sebagai konstutusi kafir adalah sepotong roti dengan berbagai macam komposisinya. Maka kita tidak akan menemukan bentuk gula di tubuh roti namun kita bisa merasakan manisnya. Begitupun Pancasila, meskipun tanpa embel-embel Islam, maka yakinlah ada aroma Islam di sana. []

*Anisul Fuad (Admin IG @alaansor)

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top