ARTIKEL

Melawan Narasi Khilafah Via Ya Lal Wathan

HTI, indonsia, khilafah,

Masalah yang dianggap sepele saat ini bisa terakumulasi dan akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Fenomena gerakan yang mengatasnamakan pemberlakuan sistem khilafah di negeri ini patut kita cermati dan waspadai bersama. Karena sangat mungkin arus gerakan yang mulanya berupa riak-riak kecil itu menjadi gelombang besar yang akan menghantam konstitusi ‘mapan’ kita yaitu Pancasila. Tulisan ini tidak akan membeberkan secara jelas sebereapa besar peluang Khilafah tegak di tanah air ini, melainkan akan sedikit menjelaskan tips dalam melawan narasi mereka.

Ada beberapa aliran dan kelompok yang telah melahirkan cara berpikir keliru. Mereka berusaha memaparkan dan membentuk persepsi tentang sejumlah permasalahan agama yang besar, padahal mereka sebenarnya tidak punya kapasitas untuk membicarakan itu. Fakta itu dibumbui kondisi psikologis mereka sedang mengalami krisis pasca runtuhnya khilafah islamiyah, termasuk penjajahan yang terjadi di palestina. Semua itu menjadi latar belakang tentang cara pandang keagamaan yang keliru, menyimpang dan tidak utuh. Di antara yang mereka bicarakan dan pahami secara keliru adalah permasalahan tanah air.

Dalam buku al-Haqq al-Mubin fii al-Rad ‘ala Man Tala’aba Bi al-Din karya intelektual muda Mesir, Syeikh Usamah, mengatakan terdapat persepsi keliru dan bernuansa distorsi dalam memandang tanah air dan cinta kepadanya. Di antara persepsi yang keliru adalah: pertama, Cinta tanah air adalah perasaan konyol yang harus ditumpas sebagaimana cinta kepada kemaksiatan. Ini pandanagan fatal, mengapa? Mereka mencampuradukan perasaan postif dan negatif. Kalau berbicara dalil sebenarnya syariat itu dirumuskan untuk lima kemaslahatan; agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Adapun jika sebuah negara itu menjaga dan mendukung terselenggaranya syariat maka negara telah menjadi syariat dan wajib untuk mencintainya. Ini sesuai kaidah fiqh. Cinta tanah air adalah naluri manusia, bahkan sosok Arab Baduwi (suku pedalaman) pernah mengatakan: “jika kamu ingin mengenal seseorang maka lihatlah bagaimana kecintaanya kepada tanah airnya”.

Kedua, konsep tanah air berlawanan dengan khilafah maka harus ditolak. Ini lahir dari konsep hakimiyyah (justifikasi) yang penuh dengan hitam putih. Mereka selalu membuat platform tidak lepas dari keduanya. Konsep tanah air dianggap hitam, sementara khilafah dianggap putih. Ini sama persis pandangan mereka tentang negara; negara Islam dan negara kafir. Maka sebenarnya tanah air merupakan sebuah loyalitas (intima) yang terhujam kuat di dada semua manusia, adapun posisi syariat adalah membimbing dan mengarahkan tanah air agar selalu sinkron dengan role koridor syariat Islam, bukan malah membenturkan tanah air dengan syariat. Kalau seperti itu, ini kontraproduktif bahkan terkesan destruktif tanpa solusi yang solutif.

Ketiga, tanah air adalah batasan yang dibuat oleh imperalis. Ini over simplifikasi dan tercerabut sosia-historinya. Tanah air bukanlah batasan geografis yang dibuat kaum imperalis. Namun ia adalah batasan wilayah sudah ada ribuan tahun sebelum terjadi penjajahan. Kita harus menjaga dan mempertahankan batasan-batasan wilayah negara sebagaimana yang sudah ada saat ini. Menghapus batasan tersebut tidak dapat dilakukan dengan main-main, namun harus dengan kesepakatan tingkat tinggi yang sesuai dengan mekanisme tertentu, seperti yang terjadi di Uni Eropa. Dengan demikian mereka berpikir bahwa kebencian terhadap penjajahan meniscayakan berlepas diri dari tanah air dengan klaim bahwa tanah air adalah bentukan penjajah. Ini kan absurd.

Pandangan Tanah Air menurut Ulama’

Siapapun pasti sepakat bahwa cinta tanah air adalah naluri yang bersumber dari hati setiap manusia. Hal ini menegaskan bahwa orang atau kelompok yang tidak cinta tanah airnya berarti dia telah melupakan sejarah bangsanya. Bung Karno bilang, “jangan lupakan jas merah” dan dikemudian hari diterjemahkan oleh Mbah Hasyim Asy’ari lewat maqalah-nya; cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Adapun Imam Fakhruddin al-Razi berpendapat dalam mengomentari [QS. An-Nisaa: 66], ia berkata: “Allah menjadikan meninggalkan kampung setingkat dengan bunuh diri”. Bahkan Imam al-Qarafi dalam kitabnya, al-Dakhirah berkata: “Manfaat haji adalah mendidik diri dengan meninggalkan tanah air.

Walhasil, untuk memuluskan agenda besar mereka dalam romantisme masa lalu, mereka merelakan membuat persepsi-persepsi tentang tanah air yang jauh dari realitasnya. Oleh mereka, persepsi tadi terus diwacanakan. Mereka lupa bahwa konsep tanah air sebenarnya tidak cacat secara syariat bahkan justru jelas-jelas mendukungnya. Namun lagi-lagi kita harus mengenang sejarah beserta dinamikanya dalam membentuk tanah air ini. Mereka yang mengusung ide khilafah sebenarnya tidak tuntas membaca sejarah tanah airnya. Andai saja mereka membaca sejarah lebih komperehensif, dipastikan ide khilafah tidak akan muncul.[]

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top