OPINI

Membantah Dalih Para Pembela MCA

mca

Membaca Kajian Ismail Fahmi “Drone Emprit” tentang “The War On MCA”

Saya baru membaca kajian Ismail Fahmi, PhD tentang “The War On MCA” yang tersebar di Grup-grup WA.

Analisis Sdr Ismail Fahmi ini seperti biasa, selalu bias tidak obyektif, kajian dia yg sekarang juga seperti ingin menyelamatkan istilah “Muslim Cyber Army” dan mengeluarkan kesimpulan yg terburu2: bahwa perang lawan MCA itu sia-sia, “bukannya melemah, justeru mereka menguat”, katanya.

Sayangnya The Drone Emprit hanya mengambil data dari Twitter, pertanyaannya: bagaimana dengan data-data dari media online, Facebook, blog-blog, Kompasiana, Kaskus, dll kenapa hanya dibatasi opini di Twitter saja, apakah Twitter bisa mewakili opini publik di semua media sosial? Menurut saya tidak, tapi mungkin itu kemampuan Drone Emprit hehehe… Mungkin butuh Drone Garuda untuk bisa mengamati semua data hehehe…

Semestinya kajian di media bisa lebih lengkap (tidak hanya Twitter), saya dulu sering membaca analisis dari PoliticaWave dan Indonesia Indicator.

Kembali ke kajian Drone Emprit, kesimpulan dr bahan yg disebarkan itu, saya tangkap untuk membentuk opini: ada MCA yg “asli” dan “palsu” yg datang belakangan yang sibuk dgn agenda sendiri. (ini opini yang memang dimaui pembela MCA).

Meski Ismail Fahmi akui bhw MCA sudah ada sejak Pilkada DKI dan bersumber dari Rizieq Shihab dan FPI sebagai motor, yg ia tutupi, MCA sudah main hoax, fitnah dan kebencian SARA saat Pilkada DKI. Kebencian pd etnis tertentu, agama tertentu, dari persekusi hingga ancaman mayat tak dishalatkan adalah produk opini kebencian yg sukses digerakkan oleh MCA di medsos yg kemudian menyebar ke lapangan. MCA adalah kelompok yang bertanggung jawab atas “wacana kebencian” (hate speech) berbasis SARA saat Pilkada DKI.

Dari bahan ini, Ismail Fahmi jg mau bilang, sia-sia polisi dan kita memerangi guna melemahkan MCA krn katanya MCA makin kuat (ini Sdr Fahmi maksain banget, data-datanya tidak akurat, jelas-jelas MCA dan gerombolannya sedang terpuruk, grup2 mereka dibubarkan sendiri dan kalang kabut, gerombolan MCA yg lain sedang “cuci tangan” kemudian mereka jaringan MCA mau menipu publik dgn istilah: ada MCA asli dan MCA palsu, padahal bedanya, MCA palsu sudah tertangkap polisi yang MCA asli belum tertangkap polisi, kalau ditangkap semua, penjara polisi akan penuh 😀).

Tujuan Sdr Fahmi pula untuk alihkan isu ke “sebaiknya perangnya lawan hoax bukan perang lawan MCA”, terlihat sekali kalau Fahmi mau menyelamatkan istilah “Muslim Cyber Army” tp Ismail Fahmi lupa, kalau perang opini dan media blum selesai, Fadli Zon dan Fahri Hamzah yg getol “bela” MCA jg dilaporkan ke polisi (ini yg tak ada dalam kajian Ismail Fahmi, karena Fadli Zon yg melaporkan Ananda–yg hanya me-RT sebuah twit dan minta konfirmasi–memang mau alihkan isu dr “perang lawan hoax MCA” ke “perang lawan hoax yg korban adalah Fadli Zon” sampai-sampai mereka juga pakai cara jahat dgn memfitnah MCA adalah pendukung Ahok yg selama ini jadi sasaran MCA, sekelas Jawa Pos pun tertipu, meski akhirnya klarifikasi dan minta maaf, tapi mereka tetap menyebarkan fitnah ini dan tidak mau klarifikasi, persis yg dilakukan Fahri Hamzah dan Fadli Zon, tapi sekarang Fadli Zon kena laporan ke polisi bersama Fahri Hamzah karena sebarkan hoax juga, ini ibarat “senjata makan tuan”, kalau Fadli Zon menuntut polisi konsisten perang lawan hoax, maka artinya polisi juga harus menindak dirinya).

Soal MCA juga belum selesai, Ismail Fahmi sudah terburu-buru menyimpulkan perang lawan MCA sia-sia, padahal proses masih panjang, proses akan menempuh perjalanan penyidikan dan pembuktiannya di Persidangan, pada akhirnya MCA akan bernasib sprt Saracen, yg awal-awalnya juga banyak yg bela dan menuduh rekayasa polisi, akhirnya semuanya terbukti dengan vonis para pelakunya. Ingat polisi belum membongkar donatur dan jaringan “kakap” MCA, yg penindakan lebih lanjut ini menakutkan bagi pihak2 yg selama ini “menyewa” jasa MCA.

Proses penegakan hukum hingga persidangan akan makin menjerat MCA dan memperburuk opini mereka, apalagi Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin sudah menegaskan menolak penggunaan kata Muslim sebagai kedok oleh kelompok produsen dan pengedar Hoax dan Fitnah, maka sudah semestinya yg harus kita perjuangkan di opini publik dan media adalah, tidak hanya ajakan melawan hoax saja, tapi juga jangan pakai Islam dan Muslim untuk bikin dan sebarkan hoax, fitnah, kebencian SARA, seperti kelakuan bejat MCA. Karena hal ini tidak hanya berbahaya akan timbul dampak yang diakibatkan seperti konflik sipil berbasis SARA, juga kelakuan bejat MCA sepertinya kebiadaban ISIS yg pakai Islam sebagai kedok untuk terorisme dan pembantaian, yang bisa memperburuk dan menciderai citra Islam sebagai agama yg damai. Atau yg paling memalukan sprt kelakuan seorang politisi PKS yg pakai istilah “liqo” dan “juz” sebagai kode suap.

Tetap lawan hoax siapapun pelakunya, tapi juga tetap lawan MCA yg membuat dan menyebarkan fitnah, hoax dan kebencian SARA.

Kita tetap dukung penegakan hukum yang dilakukan oleh Negara, khususnya polisi, karena masa depan bangsa ini tergantung bagaimana sikap kita menolak kebencian berbasis SARA, karena kita tidak mau Indonesia pecah perang sipil seperti di Libya, Suriah dan Yaman.

Mohamad Guntur Romli

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top