OPINI

Pahlawan Bernama Banser

banser

10 November, seperti yang kita ketahui diperingati sebagai hari pahlawan. Pada kesempatan peringatan hari pahlawan tersebut, kita kembali diajak untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dan pada hari ini pun dimaknai sebagai pengenang semangat para pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dalam memaknai perayaan hari pahlawan ini, para pemuda generasi penerus bangsa harus selalu berjuang demi kemajuan bangsa Indonesia. Tetap menjaga persatuan bangsa yang memiliki kemajemukan adat dan budaya, menjunjung tinggi persatuan Indonesia di atas segalanya, dan berusaha mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah dengan kegiatan yang positif, dengan tetap menjunjung tinggi budaya Indonesia.

Berbicara tentang kepahlawanan, salah satu catatan sejarah yang sepertinya kurang populer, atau mungkin terlupakan atas sejarah bangsa Indonesia, adalah peran besar organisasi masyarakat di Indonesia yang saat ini telah menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, NU.

Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI era Bung Karno, mengatakan NU memang tidak populer dan baru dikenal empat puluh tahun setelah kelahirannya.Kenapa saya menyebut NU (Nahdlatul Ulama) sebagai catatan yang kurang populer dalam bahasan / tulisan saya kali ini, yang bertema hari pahlawan? Karena ternyata, NU (Nahdlatul Ulama) punya peranan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia, yang mungkin banyak orang kurang mengetahui.

Berdasarkan catatan sejarah, setahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1927, para kiai NU dalam forum tertinggi NU memutuskan menabuh genderang perang kebudayaan. Para kiai NU menyasar pada pelarangan budaya Belanda yang tersimbolkan dalam ornamen mode pakaian.

Ahmad Syalabi (sejarawan Mesir) mencatat bahwa keputusan NU tahun 1927 tersebut bentuk perlawanan budaya para kiai terhadap penjajah. Perang kebudayaan yang digelorakan para kiai NU itu dalam implementasinya berwujud boikot dan delegitimasi atas budaya yang bersumber dari penjajah.

Perang kebudayaan tersebut berwujud legitimasi para kiai NU untuk berperang melawan penjajah. Keputusan NU tahun 1927 tentang perang kebudayaan secara langsung melahirkan hukum kewajiban muslim Nusantara untuk berperang mengangkat senjata. Hal tersebut dipengaruhi oleh fatwa dari Ulama NU yang menggolongkan penjajah sebagai kaum kafir yang harus diperangi.

Muslim Nusantara yang kemudian merespon dengan patuh dan mengaplikasikannya di kalangan masyarakat. Segala hal yang berbau penjajah pun pada akhirnya mendapatkan penolakan keras dari masyarakat. Selama satu tahun NU melakukan perang kebudayaan, hingga puncaknya pada tanggal 9 September 1928 NU menggelar Muktamar, sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, yang pada intinya ulama NU memutuskan untuk melanjutkan perang kebudayaan melawan penjajah dengan menambah agenda baru di bidang Ekonomi dan Politik. Dan menjelang Sumpah Pemuda, perlawanan ulama NU berkembang untuk melemahkan mata uang penjajahdan melemahkan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan.

Dari cerita singkat tersebut, dapat dimaknai bahwa NU punya peranan dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan dapat menjadi bukti kepedulian NU terhadap keutuhan Bangsa Indonesia.

Kepedulian NU terhadap keutuhan Bangsa Indonesia, saat ini, diaplikasikan dengan adanya BANSER.

Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) merupakan sayap organisasi dari GP Ansor (Bagian dari NU) yang fokus dalam hal keamanan dan pengamanan. Semangat Banser dalam menjalankan tugasnya adalah untuk menjaga kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) meski nyawa menjadi taruhan. Dedikasi dari seorang Banser tidak perlu diragukan lagi karena mereka bertindak demi utuhnya Indonesia dan taat dengan apa yang dikatakan oleh kiai.

Salah satu cerita yang fenomenal tentang sikap kepahlawanan BANSER adalah kisah Ariyanto, Seorang Banser yang wafat terkena bom saat berjaga di Gereja Eben Haezer Mojokerto. Ariyanto adalah sosok pejuang kemanusiaan dari kalangan BANSER, yang menjalankan tugasnya dengan baik. Meski kemudian kehilangan nyawa untuk memberikan perlindungan keamanan bagi umat Kristiani yang tengah beribadat di malam Natal saat itu.

Yang kemudian menjadi kisah fenomenal adalah karena BANSER yang dikenal sebagai bagian dari NU dan notabene adalah ORMAS Islam, rela mengorbankan nyawa demi menjaga acara keagamaan di rumah Ibadah Pemeluk Agama lain. Hal ini menunjukkan kepedulian BANSER yang tidak pandang latar belakang pihak lain, selama pihak tersebut adalah bagian dari NKRI dan perlu mendapat perlindungan keamanan. Hal tersebut adalah salah satu contoh peng-aplikasi-an bahwa Islam adalah Agama yang Rahmatan Lil Alamin.

Saat ini, BANSER, memang sedang dalam masa di-UJI oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Pemberitaan yang negatif tentang BANSER, saat ini masih begitu gencarnya. Entahlah, mungkin upaya pemberitaan negatif tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan politik, ataupun karena alasan lain.

Bagi mereka yang belum pernah mengenal BANSER, bagi mereka yang tidak mau tau tentang BANSER, mungkin akan dengan mudahnya terpengaruh dengan pemberitaan yang ada. Juga bagi mereka yang pernah bermasalah dengan banser, bagi mereka yang punya pengalaman tidak menyenangkan dengan Oknum BANSER, mungkin akan dengan senang hati ikut menyebarkan dan menanggapi berita negatif tersebut. Terlebih, pada era saat ini, masyarakat dunia maya (NETIZEN) banyak yang malas membaca dan hanya terpaku pada pemberitaan dari judulnya saja. Judul yang negatif, langsung menjadi polemik, tanpa memahami isi berita yang selengkapnya.

Teringat pada sebuah peribahasa yang menarik, “Karena nila setitik rusak susu sebelanga“. Mungkin, ini lah yang sedang terjadi saat ini. Ada pihak yang coba meneteskan nila, atau mengorek nila yang mencemari tubuh BANSER saat ini, untuk melemahkan kepercayaan masyarakat pada BANSER.

Namun, bagi mereka yang mengenal BANSER, bagi mereka yang memahami bagaimana dan apa tujuan pembentukan BANSER, juga bagi mereka yang merasakan manfaat keberadaan BANSER, akan tetap setia menjadikan BANSER sebagai Pahlawan Negeri ini. []

 

sumber: https://www.kompasiana.com/agustinopratama/5a057e0fc252fa0a937165a2/pahlawan-bernama-banser

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top