BERITA

Yuk Pahami Jihad (bagian kedua)

yuk pahami jihad

Pembagian Jihad

Ulama fiqih membagi jihad menjadi tiga bentuk, yaitu; jihad memerangi musuh secara nyata, jihad melawan setan dan jihad melawan diri sendiri. Jihad dalam pengertian universal di atas mencakup juga seluruh jenis ibadah yang bersifat lahir dan batin, sebagaimana dicontohkan dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw selama di Makkah dan Madinah. Dalam al-Quran, diksi jihad dengan pengertian universal ini terdapat dalam 39 ayat.
Secara prinsip, jihad diwajibkan oleh Allah dengan suatu upaya umat Islam untuk tetap bersandar pada nilai-nilai syari’at Islam, meskipun betapa beratnya tantangan kehidupan dunia. Misalnya, kewajiban jihad ilmu, jihad ekonomi, jihad kesenian, jihad ibadah, jihad ukhuwah, jihad politik dan jihad terhadap dirinya sendiri.
Jihad ekonomi adalah bagaiamana membebaskan diri dari kemiskinan sehingga umat Islam menjadi umat yang kaya. Era modern ditandai dengan tingkat kemakmuran suatu Negara. Ada idiom di tengah masyarakat kita, semakin kaya seseorang, semakin diragukan agamannya. Tapim semakin miskin seseorang hamper dapat dipastikan bahwa mereka orang Islam. Fenomena inilah yang perlu kita jihadkan. Sebab, Islam bukan agama orang miskin. Jadi, membebaskan diri dari kemiskinan merupakan jihad ekonomi.
Jihad ilmu, jihad di bidang ilmu sangat perlu diprioritaskan. Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah sejalan dengan kedalaman ilmu dan takwa (Imtak) seseorang. Keduannya menjadi tolak ukur dari kejayaan suatu umat dan bangsa.
Berjihad mengatasi pengangguran, meupakan jihad akbar. Karena dengan itu, suatau langkah penyelamatan dari ancaman kefakiran, lalu kekufuran. Saat ini, hamper 40-60 juta angkatan kerja tidak memperoleh pekerjaan. Seorang Muslim yang sedang berjihad adalah bagaiamana membuka lapangan pekerjaan sehingga diri dan keluarga tidak terjerumus ke dalam kebinasaan.
Adapun jihad dalam konotasi khusus, yaitu berperang, sangatlah terbatas dan harus memenuhi kriteria yang sangat ketat. Ketika umat Islam terancam dari kekuatan nyata orang-orang kafir, pada saat itu jihad dalam arti berperang baru diwajibkan. Jadi, jihad itu sifatnya memperthankan diri. Allah Swt berfirman: “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu dan bersikap keraslah terhadap mereka…(At-Taubah: 73). “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (Al-Hajj: 39).
Jihad ini dilakukan dengan qital (perang) menghadapi orang-orang kafir yang memerangi dan menzalimi orang Islam. Misalnya, dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw, pada waktu perang Badar, Uhud, Khandaq, di mana kaum kafir Quraish menyerang Nabi Muhammad saw. Tapi, anda jangan pula merasa berjihad ketika rumah atau tanahmu kena proyek penggusuran oleh pemerintah kota meskipun saat itu wali kotanya non-Muslim. Seandainya biaya ganti rugi sudah disepakati, tidak ada alas an untuk berteriak berjihad mempertahankan hartamu.
Jihad dalam konotasi mengangkat senjata sangat selektif dan tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang atau kelompok. Harus ada perintah dari penguasa. Alhasil, pengertian secara universal tentang jihad harus dijadikan pedoman, tidak boleh menutup-nutupi sehingga yang terlihat hanyalah jihad fisik (perang) yang sebenarnya perang yang paling setrategis era ini adalah jihad ekonomi dan jihad ilmu pengetahuan. []

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top