BERITA

Yuk Pahami Jihad (Bagian Pertama)

jihad

Munculnya aksi-aksi kekerasan dan radikalisme atas nama agama berawal dari pemahaman agama yang keliru, khususnya dalam memahami jihad. Apa itu jihad? Jihad bukan sebatas melawan orang kafir dalam upaya membela agama Allah (jihad fiisabilillah).

Makna jihad sangat luas dan universal. Jihad berasal dari bahasa Arab yang berarti sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Segala aktivitas yang dilakukan dalam rangka beribadah dan mencari ridha Allah Swt adalah jihad. Seorang bapak yang mencari nafkah secara halal demi kesejahteraan keluarganya bisa disebut berjihad fisabilillah.

Seorang siswa yang belajar dengan tekun pun bisa dibilang berjihad. Seseorang pedagang yang berjualan di pasar, lantas dia bersungguh-sungguh berlaku jujur dan tidak menipu pembelinya, dia sudah berjihad untuk dirinya. Seorang wanita yang mempertahankan harga diri dan kehormatannya dengan menggunakan jilbab dari gangguan lelaki jahat, dia juga berjihad. Karena itu, jihad sangat luas maknanya. Dan, seseorang dapat berjihad sesuai bidangnya masing-masing.

Karena jihad sangat luas maknanya, maka pemahaman jihad harus diluruskan sehingga pelaksanaan jihad dapat disesuaikan dengan persoalan umat Islam dan fenomena kehidupan yang dihadapinya. Artinya, jihad harus disesuaikan dengan konteks terkini dan persoalan umat Islam di dunia modern. Kekeliruan dalam memaknai jihad dalam arti sempit, seperti peperangan dan aksi-aksi kekerasan, disebabkan berbagai hal.

Pertama, persoalan politik di dunia Islam yang sedang berkecamuk. Kecenderungan memahami jihad dengan aksi-aksi kekerasan, terror dan perang, tak lepas dari fenomena yang dialami oleh dunia Islam, terutama gejolak politik Timur Tengah. Misalnya, perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan, peperangan rakyat Afganistan melawan tentara Komunis Uni Soviet di masa silam. Termasuk juag campur tangan negara Barat, dalam krisis politik di Afganistan dan Irak saat ini.

Kedua, produk pemikiran yang salah dari tokoh dan aktivis Islam. Karena menggap diri dan kelompoknya paling benar, maka ketika kekuasaan belum diraihnya, mereka menghalalkan cara-cara kekerasan dan radikalisme untuk merebut kekuasaan atas nama agama sehingga mereka menjadi penganut aliran Islam garis keras, militan dan fundamentalisme. Bagi pengikutnya, mereka merasa telah berjihad dan menganggap kelompok lain salah. []

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top