BERITA

Yuk Pahami Jihad; Terorisme Bukan Jihad (bagian keempat)

banser

Terorisme Bukan Jihad
Pembuktian terhadap kebenaran Islam tidak mesti dicapai dengan cara-cara kekerasan dan terorisme. Tapi, dapat dilakukan dengan cara-cara damai dan dialog. Dalam konteks ini, jihad dapat dipandang sebagai suatu bentuk propoganda keagamaan yang dapat dilancarkan secara persuasif (ajakan) sehingga orang lain daoat mengimani kebenaran ajaran Islam.
Nabi Muhammad saw dalam berdakwah tetap menggunakan jalan persuasif, bukan cara-cara brutal dan radikalisme. Misalnya, dalam periode Makkah, jihad dilakukan melalui persuasif. Nabi Muhammad saw pada masa itu cukup puas dengan mengingatkan masyarakat Makkah tentang kekeliruan penyembahan berhala dan sebaliknya menyeru mereka untuk menyembah Allah swt dengan cara-cara baik dan bijaksana. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl: 125).
Kewajiban jihad dapat ditunaikan dalam empat bentuk: dengan hati, lisan, tangan dan perang. Jihad bentuk pertama berkenaan dengan perlawanan iblis dan rayuannya kepada manusia untuk melakukan kejahatan. Jihad ini dipandang sangat penting sehingga disebut dengan jihad al-akbar. Jihad jenis kedua dan ketiga dijalankan untuk menegakan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Jihad jenis keempat sama artinya dengan perang dan berkenaan dengan pertempuran melawan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam, ketika dijajah dan nyawannya terancam oleh orang-orang kafir.
Ketika Israel menyerang Lebanon pada tahun 1982, banyak umat Islam yang ingin berjihad ke Lebanon. Tapi, Grand Mufti Mesir, Syeikh Sayyid Thanthawi melarang mayarakat sipil Mesir untuk berjihad ke Lebanon. Dalam fatwanya, Syeikh Thanthawi menyerukan agar masyarakat Mesir berjihad dengan mendidik keluarga sehingga mengerti tentang ajaran Islam yang sebenarnya. Itulah jihad akbar yang perlu dilakukan orang Mesir.
Bagi kita di Indonesia, tentu saja sangat ironis. Ketika umat Islam masuh dominan buta huruf dan banyak berada di garis kemiskinan, jihad diartikan dengan berperang menyerang orang-orang Nasrani atau membom jepentingan dan simbol-simbol Amerika Serikat (AS). Suatu tindak keliru, sekelompok pemuda dengan semangat menyala mengambil prakarsa dengan meledakan bom di gereja atau hotel seperti dilakukan Imam Samudra dan kawan-kawan di Bali dan Hotel Mariott.
Tindakan mereka itu tidak akan membuat jumlah orang masuk Islam jadi bertambah banyak atau melumpuhkan perekonomian musuh. Tindakan tersebut malah nenjadi iklan buruk buat Islam. Itu bukan jihad tapi kejahatan. Gara-gara mereka itulah banyak anggota masyarakat kehilangan pekerjaan. Akibatnya, jumlah kemiskinan pun kian bertambah.
Ketika dua pesawat menabrak Gedung Kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 200, banyak yang melihat sebagai jihad melewan imperalisme AS. Tapi ulama-ulama terkemuka di dunia Islam dengan tegas menolak. Itu bukan jihad, tapi merusak Islam. Kecaman yang sama datang dari Prof. DR. Sayyid Thantawi, Grand Syeikh Al-Azhar University.
Walhasil dan poin pentingnya adalah jihad yabg paling strategis era ini bukanlah dengan kekerasan namun dengan kelembutan. Angkat senjata hanya akan mengacaukan suasana. Dakwah itu mengajak bukan menakut-nakuti. []

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top